Latest Post

Follow Me

Praktikum BK Pribadi Sosial

Pemahaman Tentang Irama Kehidupan Fluktuatif 

 
A.    Pengertian fluktuatif kehidupan
Istilah usang yang masih terus berlaku sampai saat ini, bahwa hidup itu bagaikan roda. Ia kan berputar tiap saatnya. Lalu menghadirkan banyak peristiwa. Perubahan. Sesuatu yang berbeda. Tidak biasa. Tidak pernah diduga. Dan tidak dipersiapkan sebelumnya. Nah itu mungkin yang salah, “tidak dipersiapkan sebelumnya”.
Tidak enak, menghadapi sesuatu tanpa pernah men-setting-nya terlebih dahulu. Jadi yang harus dipersiapkan adalah persiapan menghadapi putaran roda, tidak lantas mengandai-andai. Begitu seharusnya.
Fluktuasi dalam hidup atau biasa disebut dengan motion of life, adalah setiap keadaan yang selalu dialami, perubahan, gerak-gerik baik fisik maupun jiwa dalam hidup seseorang. Bahwa hidup adalah senantiasa berubah, tidak ada konstantitas di dalamnya. Tidak ada bayi yang akan senantiasa menjadi bayi selamnya, lambat laun ia akan menuju kedaan setelahnya, ia akan tumbuh menjadi bayi yang tadinya masih kecil akhirnya membesar dan membesar, menjadi seorang remaja, akhirnya ia akan menjadi dewasa.
Titik tekan yang kami maksudkan di sini bukanlah pada keadaan bahwa manusia dari bayi menjadi dewasa itulah hidup, namun proses yang senantiasa berubah itulah yang dinamakan hidup itu. Sehingga nanti pada akhirnya, yang hidup ini belum tentu hidup, namun sekedar hidup karena dalam hidupnya ia tidak ada motion of life ini.
Mari kita menuju definisi “hidup” yang hendak kita pahami di sini. Misalnya pedagang dengan barang jualannya yang laris, ialah bakso yang ia jual. Setiap hari ia berjualan bakso tersebut, mulai sore hari ia menyiapkan barang-barang untuk keperluan jualan besok hari, malam harinya ia mengerjakan pembuatan baksonya. Paginya ia berangkat, sampai di lokasi ia membuka tempat jualannya tersebut, hingga seharian dilaluinya–dan baksonya selalu habis terjual. Namun apakah yang demikian adalah suatu usaha yang hidup ? Maka jawabnnya belum tentu. Ia akan hidup apabila tujuan berjualannya ialah bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan hasil untuk keperluan yang konstan.
Maka usaha yang demikian akan hidup apabila beriringan dengan waktu, sebagai hasil, ia akan berubah pula, dalam artian ada perkembangannya. Inilah yang dimaksud dengan hidup yang positif. Sementara dalam hal sebaliknya, apabila ia justru menuju kearah kebangkutan, maka inipun juga dinamakan hidup, namun hidup yang dalam kapasitas yang negatif. Demikianlah hidup. Bahwa hidup tidaklah konstan, hidup tidaklah tetap. Harus ada inovasi baru, dan hal-hal yang baru yang dilaksanakan dengan pengibaratan yang nyata: “sekarang lebih baik daripada kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini..”, itulah salah satu tanggapan yang merupakan konsep hidup positif. Dalam hal ini pun lagi-lagi kita dapati bahwa seungguhnya kita megerti bahwa hidup adalah senantiasa berubah.
Sekarang apabila kita analisis di dalam hidup ini, dengan dasar pemahaman kita di atas bahwa hidup akan senantiasa berubah, maka kita tidak heran apabila kita  mendapati apa pun yang ada pada diri kita berubah. Sehingga kita akan mendapati diri kita dalam keadaan semangat juga keadaan tidak semangat.
Semangat dan tidak semangat ini pun merupakan sebuah keadaan yang terwujud karena merujuk bahwa kita benar-benar hidup. Maka keberadaan keadaan atau state semangat dan tidak semangat ini merupakan hal mutlak pada diri setiap orang yang hidup. Sehingga seharusnya kita tidak menyalahkan diri kita, tidak menyalahkan orang lain oleh karena identitas diri kita. Maka sesungguhnya manusia yang berakal dengan berbekal kemampuan ia justru bisa menggunakan dua keadaan tersebut. Selalu menjaga kesemangatan dalam hidup itulah yang dimaksud sebagai salah satu pengertian perjuangan.
Sesuai dengan yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa manusia mendapati dua macam keadaan yang senantiasa berpasang-pasang di dunia ini. Dan dengan kemampuannya pula ia bisa memilah mana yang sebaiknya dari perlawan-perlawanan dari dua keadaan yang berpasangan tersebut yang baik untuk diambil.
B.     Ciri-ciri kehidupan yang fluktuatif
Tidak ada yang menyangkal, akan benar adanya bahwa hidup ini memanglah bersifat tidak tetap ( fluktuatif ). Kadang kita merasa bahagia, kadang juga merasa sedih. Kadang bangga, terkadang juga minder. Kadang menangis, kadang tertawa. Terkadang merasa berkecukupan dan kadang merasa kekurangan. Namun tidaklah banyak di antara kita yang mengetahui harus bagaimana menghadapi sifat hidup tersebut.
C.    Cara memahami irama kehidupan yang fluktuatif
Ada dua senjata untuk menghadapi kondisi kehidupan yang fluktuatif ini. Sabar dan syukur. Sabar jika tertimpa hal yang kurang baik, dan bersyukur jika mendapat nikmat dari Tuhan. Jadi, sebagai manusia, kita haruslah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami dan berusaha memegang kuat dua senjata tersebut di dalam hidup ini. Agar di berbagai kondisi apapun kita akan mendapatkan kebaikan berupa pahala, baik dalam keadaan senang ataupun susah, baik dalam keadaan berbahagia maupun sedang bersedih.
Remaja dalam Fluktuasi Era Global
Dewasa ini, kemajuan teknologi dan komunikasi telah banyak mempengaruhi kehidupan berbangsa dan berbudaya. Globalisasi, sebagaimana diungkapkan merupakan suatu yang tak dapat ditolak kedatangannya selain juga tak pernah kita undang kehadirannya. Globalisasi hadir bersamaan dengan perubahan. Kita sebagai bagian dari proses ini, mau tak mau harus siap dengan adanya perubahan tersebut. Dalam era globalisasi ini, dapat dikatakan bahwa dunia makin kecil dan sempit sehingga hubungan antarbangsa dan negara makin dekat, komunikasi dan transportasi semakin cepat dan saling mempengaruhi. Dengan demikaian, globalisasi membawa pandangan baru tentang konsep ”Dunia Tanpa Tapal Batas” yang akan membawa kepada perubahan-perubahan baru. Derasnya arus informasi yang terbawa, menjadikan kita-masyarakat indonesia pada berbagai kalangan umumnya,serta remaja khususnya- harus mampu memilih dan memilah yang baik dan yang buruk. Remaja dalam hal ini, merupakan sasaran empuk fluktuasi zaman yang dengan mudah dapat terbawa labilnya arus globalisasi. Serangan-serangan budaya luar misalnya,dapat dengan mudah mereka terima. Hal ini menjadikan remaja kehilangan jati diri mereka sebagai anak timur atau anak tanah air. Krisis kebudayaan menjadikan remaja yang seharusnya merupakan pemegang masa depan bangsa seolah tak perduli dengan keadaan bangsanya sendiri. mereka jauh lebih disibukkan dengan hal-hal lain yang tak penting. Rasa cinta terhadap bangsa dan budaya sendiripun kian memudar, padahal ada banyak kebudayaan milik kita yang justru dikagumi dan bahkan ingin dimilikil oleh bangsa lain. Begitu sedikit mereka, remaja indonesia, yang ingin belajar atau setidaknya menngetahui budayanya sendiri. Indonesia sebagai orang timur, harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan tata krama. Remaja kini mulai terpengaruh,berpakaian yang tidak sepantasnya, pesta, minum-minuman berakohol dan yang lainnya, adalah bukan budaya kita. Memang globalisasi tidak melulu memberikan pengaruh buruk, ada juga hal baik yang ia tawarkan. Kita dapat mengetahui dan belajar budaya-budaya luar serta mengambil sisi-sisi positif dari hal tersebut. Tapi itu juga bukan berarti kita menanggalkan budaya kita sendiri dan hanya berkiblat pada budaya luar. Kita tak akan mampu menghadapi globalisasi jika tak dapat mempertahankan landasan kita,pegangan kita, yaitu remaja,orang-orang yang akan menduduki entah itu kursi legislatif,eksekutif atupun yudikatif lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Dalam pidatonya, Soekarno,sang proklamator sekaligus presiden pertama kita,pernah mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mampu mengubah dunia” Kita sebagai remaja seharusnya mengisi waktu-waktu muda ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Kitaharus buktikan bahwa globalisasi takkan pernah mampu mematikan semangat merah putih. Budaya kita,kitalah yang harus menjaga dan menghargainya. Jangan pernah tanyakan apa yang telah negara lakukan untuk kita,tapi tanyakanlah apa yang bisa kita lakukan untuk negara kita.
Robertus Dedy K, S.Pd Guru BK Fransiska Puspita Dewi, S.Psi
Apabila kita dapati pemahaman yang luas, maka terhadap segala kita tidak akan bisa menjustifikasi kebenarannya. Begitu pula dengan apa yang akan saya maksudkan di sini. Yakni pengertian hidup. Ada yang mengata bahwa hidup adalah pengorbanan. Ada pula yang menyata bahwa hidup adalah perjuangan, hidup adalah realita, hidup adalah bekerja, hidup adalah beribadah, hingga ada juga yang mengatakan bahwa hidup adalah takdir.
Nah, untuk pengata yang terakhir kiranya di sini (hidup adalah takdir) merupakan paham yang sangat riskan terhadap eksistensi dan perubahan yang dilakukan seseorang. Kenapa demikian?
Yang jelas dengan sepenuhnya apabila seseorang percaya bahwa segala sesuatunya telah ditentukan–dipaketkan oleh tuhan maka manusia tidak punya daya apa-apa dan selanjutnya manusia tidak akan berusaha, semata-mata hidup telah ditentukan segala perubahan–motionnya–semua oleh tuhan. Sedang apabila seseorang percaya sepenuhnya bahwa manusia berkuasa atas setiap fiil yang telah, akan, dan sedang dilakukannya maka inipun akan mengingkari adanya kekuatan-kekuatan agung yang ada dan yang pada kenyataannya kita secara kosmik patuh di dalam aturannya. Semisal; kita (manusia) hidup di planet bumi ini, dan bumi bertempat di tatanan tata surya berderetan dengan rapinya mulai matahari, merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus hingga pluto…(yang sekarang dikata bukanlah termasuk dalam jejeran planet, tapi sekedar benda angkasa..)
Maka, akankah dengan pengetahuan kita mengenai adanya kekuatan yang mana kita tunduk didalam aturannya tersebut tetap membuat kita bersikukuh berpandangan bahwa manusia dan fiilnya adalah kuasa atas segala yang dilakukannya.
Sehingga pelajaran yang penting yang kita peroleh darinya adalah bahwa kita, manusia tidak harus pada sisi terluar pada kedua ekstrim pendapat tersebut. Karena hal demikia, secara geometris saja apabila kita membayangkannya tidaklah berposisi pada keadaan yang seimbang. Maka hendaknyalah kita mendapati maqam yang kita duduki pada keadaan yang seimbang, hingga kita pelajari–pahami paham keduanya di atas dan kita dapati diri kita tidak terkecoh pada posisi stagnan yang gelap dari salah satu sisi ekstrim keduanya.
Apa yang saya katakan di atas hanya sekedar sebagai pengantar bahwa setiap benar-benar tidak akan bisa mengatakan bahwa dirinya adalah yang terbenar. Terlepas dari itu semua, bahwa dengan sudut pandangnya yang berlainan dari mana seorang manusia menyikapi dan menilai suatu persoalan. Ya sejauh itulah ia akan menyimpulkan dan ia akan mendapatkan kebenaran yang apabila ia benar-benar mendayakan segenap akal pikir budinya maka harapan besar bahwa ia akan mendapati kebenaran sejauh mungkin alias dengan epsilon mendekati enol.aya pun sekarang, dengan demikian Anda paham bahwa,
D.    Cara mengantisipasi Fluktuasi Kehidupan Remaja
Saat anak-anak mulai memasuki usia remaja, pengakuan akan eksistensinya menjadi satu kebutuhan tersendiri. Dan di saat yang bersamaan, usia remaja juga ditandai dengan perubahan fisik, emosi, dan kondisi sosial yang tidak jarang membuat kecemasan bagi kehidupan remaja itu sendiri.
Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh remaja dalam menghadapi hidup yang bersifat fluktuatif? Banyak hal yang bisa kita lakukan, karena Prevention menemukan, setidaknya ada 5 wilayah penting yang harus dilalui remaja. Apa sajakah itu…
1.      Usia remaja adalah usia penuh ekspektasi.
Pada usia peralihan ini, remaja selalu ingin diakui. Bagi mereka, pengakuan ini membuat mereka belajar mendefinisikan apa yang mereka dan sekitarnya mau. Karena itulah peran serta orang tua seharusnya bisa menjadi panduan apa saja bagi ekspektasi yang harusnya mereka penuhi untuk kebahagiaan mereka dan sekitarnya.
2.      Energi penuh untuk beraktivitas.
Usia remaja juga ditandai dengan keinginan untuk aktif di berbagai kegiatan. Dan kegiatannya bukan hanya yang bersifat fisik tapi juga mental. Mereka butuh berinterkasi dengan banyak teman-temannya. Maka ketika mereka hanya puas menonton televisi sambil mengunyah tak henti, ini bisa jadi tanda bahwa mereka tengah mengalami masalah.
Karena ketika lingkungan pertemanannya tidak menerima keberadaanya, yang pertama kali akan dilakukan remaja adalah menghindar. Menurut Dr. Ruth Peters, penulisnbuku Laying down the Law : The 25 Laws of Parenting, orang tua harus bisa membaca setiap perubahan yang terjadi. Inilah yang nantinya akan membuat kita mendeteksi setiap masalah yang terjadi pada remaja kita.
Ingatlah energi pada usia remaja sangat berlebih, Peters pun menyarankan kita untuk memberikan kebebasan pada anak-anak remaja kita mengikuti berbagai aktivitas positif. Pada saat mereka dewasa, berinterkasi dengan sekitar dan mengembangkan skill yang dimiliki bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.
3.      Kenalkan mereka pada indahnya berempati.
Dengan mengenalkan rasa ini, kita akan mengajarkan mereka betapa pentingnya menghargai seseorang dengan merasakan apa yang mereka alami. Sebab anak remaja kita  akan sangat digoda untuk menjadi populer di antara teman-teman sebayanya. Dan cara untuk menjadi populer ini sangat banyak, mulai dari menonjolkan materi yang dimiliki orang tua sampai menjadi anak yang selalu membuat masalah.
Agar konsep menjadi populer dipersepsikan dengan cara yang benar, kita harus mengenalkan konsep menghargai orang lain dengan rasa kasih adalah sama dengan menghargai diri sendiri. Persepsi ini akan terbentuk dengan baik, ketika mereka merasaka sendiri bagaimana nikmatnya berbagi dengan sekeliling. Ajaklah mereka untuk ikut melakukan aksi sosial bersama dengan orang tuanya.
4.      Bentuklah komunikasi dengan peluang dialog yang terbuka lebar.
Meskipun susah bagi anak remaja untuk mengakui orang tuanya adalah orang terpenting dalam hidup mereka, jauh di dalam hati mereka tidak akan pernah bisa      melepaskan diri dari kita. Itu mengapa tidak akan ada manfaatnya jika kita terus menjadi “musuh” bubuyutannya.
Ajaklah mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan terhadap situasi yang tengah dihadapi. Kadang kala dalam situasi yang sangat santai, mereka akan bercerita panjang lebar. Itu artinya, luangkanlah waktu bersama walaupun  sekedar bersepeda atau jalan pagi bersama.

5.      Berikan kepercayaan untuk menjadi mandiri.
Yang membuat anak-anak kita tidak sabar menjadi dewasa adalah kebebasan mereka untuk memutuskan sesuatu bagi dirinya sendiri. Hanya saja, orang tua sering kali menganggap anak-anak mereka tetap menjadi anak-anak seberapa pun usia mereka bertambah. Padahal keberanian untuk memutuskan sesuatu yang terbaik bagi dirinya     adalah salah satu cara mempertahankan diri.
Maka ketika remaja kita bisa memilih teman yang memang baik bagi perkembangan fisik dan psikisnya, jangan coba intervensi. Tapi ketika teman-temannya sekelilingnya lebih mengajak dia untuk menikmati hidup dengan kesenangan yang salah, kita harus turun tangan. Yang perlu diingat, kita hanya menyadarkan mereka dengan objektif. Jangan buat mereka trauma memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri.
6.      Sesekali biarkan mereka menjadi anak-anak kembali.
Peters menjelaskan, sebenarnya saat anak remaja kita mengalami satu kegagalan,    mereka masih menyimpan jiwa kekanak-kanakan. Mereka ingin dimengerti dan     perhatikan sebagaimana mereka kecil dulu, karena momen seperti itulah mereka   merasakan kehagatan orang tua. Berikan mereka romantisme itu dan semangati mereka untuk kembali menjadi remaja dewasa melalui pengalaman

FLUKTUASI DALAM HIDUP
Pengantar
Kerukunan pasti terkait dengan keteraturan social atau social order. Di dalam diskursus ilmu social, maka keteraturan social merupakan suatu hal yang sangat mendasar di dalam kehidupan ini. Bahkan begitu pentingnya keteraturan social tersebut maka di dalam salah satu asumsinya dinyatakan bahwa social order merupakan bagian penting di dalam kehidupan ini. 
Hampir tidak didapati suatu masyarakat yang tidak mendambakan kerukunan itu. Kerukunan merupakan bagian yang sangat penting di dalam membangun peradaban. Semua peradaban yang sangat maju di dunia ini pastilah dibangun di dalam suatu masyarakat yang berada di dalam keteraturan. Bangunan-bangunan yang hingga sekarang masih berdiri megah, seperti Candi Borobudur, Bangunan Taj Mahal, Piramida di Mesir dan sebagainya pastilah dibangun di dalam suatu masyarakat yang negaranya dalam keadaan teratur atau kerukunan.
Di dalam suatu masyarakat yang rukun, maka pembangunan akan dapat dilakukan secara maksimal. Untuk persoalan pembangunan masyarakar, maka saya berpendapat bahwa kerukunan tentu menjadi prasyaratnya. Jika masyarakat di dalam suatu keadaan konflik, maka pasti tidak akan dapat dilakukan pembangunan. Bahkan andaikan masyarakat tersebut sudah melakukan pembangunan dan kemudian terjadi konflik yang berakibat pada kerusakan fisik, maka akan terjadi proses pembalikan sejarah. Artinya, pembangunan yang sudah dilaksanakan tersebut akan kembali ke keadaan puluhan tahun sebelumnya.
Konflik di daerah seperti di Ambon atau Poso, maka akan mengembalikan dua daerah tersebut dalam keadaan seperti 30-40 tahun yang lalu. Hal ini tentu disebabkan oleh kerusakan yang diakibatkan oleh konflik yang berkepanjangan. Makanya konflik yang bercorak fisikal akan menjadikan kerusakan ketimbang dinamika social yang tinggi.
Disebabkan oleh keteraturan social yang berupa kerukunan menjadi prasyarat pembangunan masyarakat, maka menjaga kerukunan tentu merupakan suatu hal yang wajib dijaga bersama dalam situasi apapun. Di dalam hal ini, maka membangun kerukunan di tengah dunia yang plural dan multicultural merupakan keniscayaan yang mesti dilakukan.
Pluralism
Kehidupan manusia sesungguhnya merupakan sekumpulan orang yang masing-masing memiliki kecenderungan, kepentingan dan keinginan yang berbeda. Selain itu juga manusia memiliki ciri khas yang sangat unik yaitu berbeda antara yang satu dengan lainnya. Perbedaan itu bisa berasal dari  suku,  agama, ras dan antar golongan atau yang disingkat SARA.
Pluralitas (keragaman) adalah bagian dari kehidupan ini. Bahkan dinyatakan sebagai sunnatullah. Tuhan memang telah menciptakan manusia dengan berbagai variannya. Ada varian etnis, suku, agama, golongan dan kelompok. Bahkan juga pluralitas ekonomi, pendidikan, social, budaya dan sebagainya. Semua memberikan gambaran bahwa dunia ini memang diciptakan dalam kenyataan yang plural atau beragam.
Kata plural berarti untuk menunjuk pada sesuatu yang lebih dari satu. Jika dikaitkan dengan penggolongan atas manusia, maka akan dijumpai suatu kenyataan bahwa manusia memang bergolong-golongan. Ada etnis kaukasoid, etnis mongoloid, negroid dengan varian-varian tambahannya. Kulitnya saja juga bervariasi. Ada yang kuning, ada yang hitam ada yang coklat dan sebagainya. Bahkan berkat perkawinan silang antar etnis, maka muncullah etnis baru. Misalnya di Amerika Serikat muncul etnis Browning America yang merupakan hasil persilangan etnis antara kulit putih dengan kulit coklat. Persilangan khas Amerika utara dengan  Amerika Latin.
Pluralisme dalam pandangan kaum agamawan, dinyatakan bahwa pluralism merupakan salah satu kata yang ringkas untuk menyebut sesuatu tatanan dunia baru di mana perbedaan budaya, system kepercayaan, dan nilai-nilai yang perlu disadari agar warga negara terpanggil untuk hidup berdamai dalam perbedaan. Di dalam konteks ini, maka di dalam kehidupan ini dibutuhkan adanya saling pemahaman akan koeksistensi, hidup dengan saling menghargai dan mengakui.
Pluralism juga bisa digunakan untuk menggambarkan dimensi politik. Yaitu pandangan bahwa di dalam pluralism politik, terdapat enam proposisi yang mendasar ialah: 1) individu terwakili dalam beberapa unit kecil pemerintah, 2) penyelenggaraan pemerintahan yang tidak representattif menimbulkan kekacauan, 3) masyarakat terdiri dari berbagai asosiasi keagamaan, kebudayaan, pendidikan, profesi dan ekonomi yang berdiri sendiri, 4) asosiasi-asosiasi ini bersifat sekarela di mana tidak ada keharusan bahwa semua orang harus berafiliasi pada satu asosiasi saja, 5) kebijakan umum yang diterima dan mengikat adalah hasil interaksi bebas antarasosiasi, 6) pemerintahan public wajib mengakui dan bertindak hanya kesepakatan kelompok.
Yang sangat menarik untuk dikaji tentu saja adalah pluralism agama. Kata ini merupakan terminology filsafat yang mencakup empat hal, yaitu: 1) monism ialah pandangan yang menyatakan bahwa “Yang Ada” hanyalah satu, yang serba spirit, serba roh dan serba ideal. Dualism berpendapat bahwa “Yang Ada” terdiri dari dua hakikat, materi dan roh. Pluralism beranggapan bahwa “Yang Ada” itu tidak hanya terdiri dari materi dan roh atau ide, melainkan terdiri dari banyak unsur. Agnotisisme beranggapan bahwa manusia tidak memiliki kesanggupan untuk mengetahui hakikat materi maupun rohani termasuk juga yang mutlak dan transenden.
Pluralism keagamaan merupakan pandangan yang menyatakan bahwa: 1) kebenaran yang diakui oleh setiap aliran (agama) bersifat nisbi, dengan kata lain, bahwa tidak ada kebenaran tunggal, 2) kebenaran yang diakui oleh setiap aliran memiliki nilai yang sama dan tidak satupun berada di atas lainnya. 3) aliran keagamaan harus diperlakukan sebagai entitas eksistensial mandiri yang mengannut pandangan filsafat dan system nilai sendiri yang dapat diungkapkan dalam berbagai bentuk dan tradisi.
Selain kata pluralisme, maka juga dikenal konsep multikulturalisme. Menurut Bikhu Parekh, bahwa multikulturalisme mengangkut tiga hal, yaitu: 1) manusia secara cultural dilekatkan dalam posisi bahwa mereka tumbuh dan hidup dalam dunia yang terstruktur secara cultural, mengorganisasikan kehidupan dan hubungan-hubungan social menurut system makna, memposisikan nilai yang besar tentang identitas cultural mereka. 2) kebudayaan-kebudayaan yang berbeda mencerminkan system makna dan pandangan tentang jalan hidup yang baik. Setiap kebudayaan merupakan system makna yang dijadikan sebagai pedoman oleh mereka masing-masing. Di dalam hal ini, maka keunikan, kecirikhasan dan manifestasi kebudayaan yang satu dengan lainnya merupakan sesuatu yang sangat wajar. Makanya, setiap kebudayaan tidak bisa disepadankan sebagai mana yang lebih baik. 3) semua kebudayaan kecuali yang paling primitive secara internal bersifat majemuk dan mencerminkan sebuah percakapan berkelanjutan antara tradisi dan rangkaian gagasan mereka yang berbeda-beda. 
Membangun Kerukunan
Bahwa hak beragama adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Hak ini termasuk bagian yang disebut sebagai freedom to be. Di dalam freedom to be, maka negara sama sekali tidak boleh untuk ikut campur, misalnya tentang sebutan tentang Tuhan, Nabi, Kitab Suci dan sebagainya. Selain itu,  negara menjamin  kemerdekaan  tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, dan Pemerintah berkewajiban melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama & ibadat.
Tetapi negara memiliki kewenangan untuk mengatur hubungan antar penganut agama yang di dalam hal ini terkait dengan freedom to act. Mengenai freedom ta act, maka negara memiliki sejumlah kewenangan sebab negara berhak untuk mengatur relasi antar penganut agama dan antar warga negara. Agar tidak terjadi kekisruhan di dalam relasi antar umat beragama dan bahkan antar intern umat beragama, maka pemerintah berhak untuk mengatur hubungan tersebut.
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi,  saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah upaya bersama    umat beragama dan Pemerintah di bidang pelayanan, pengaturan, dan pemberdayaan umat beragama. Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan bimbingan dan pelayanan agar setiap penduduk dlm melaksanakan ajaran agamanya dapat berlangsung dgn rukun, lancar, dan tertib.
Oleh karena itu, arah kebijakan Pemerintah dalam pembangunan nasional di bidang agama antara lain peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama, kehidupan beragama, serta peningkatan kerukunan intern dan antar umat beragama. Hal ini senada dengan gagasan Mantan Menteri Agama RI, yang menggagas tentang trikerukunan umat beragama, yaitu kerukunan antar umat beragama, kerukunan intern umat beragama dan kerukunan antarumat beragama dengan pemerintah. 
Di  dalam acara National Summit yang dilaksanakan selama dua hari, Kamis –Jum’at, 29-30 Oktober 2009 juga banyak yang mempertanyakan bagaimana agama dapat dijadikan sebagai spirit dalam membangun masyarakat Indonesia. Ada tiga fokus pembicaraan tentang relasi agama dan masyarakat, yaitu agama dalam relasinya dengan kerukunan umat, agama dalam relevansinya dengan peningkatan kehidupan umat dan agama dalam relevansinya dengan tantangan pembangunan secara menyeluruh atau menjadikan agama sebagai spirit pembangunan.
Kerukunan umat beragama merupakan pilar kerukunan bangsa dan negara. Oleh karena itu, maka membangun kerukunan antar umat beragama merupakan kewajiban seluruh warga negara. Di dalam konteks kerukunan umat, maka semua warga negara mestilah menjadikan koeksistensi sebagai pedoman hidup bersama dan kemudian dapat mengajawantah di dalam proeksistensi, yaitu kebersediaan untuk melakukan kerjasama untuk tujuan menyejahterakan umat manusia.

 

Contoh Problem Check-List (bimbingan & konseling)


PROBLEM CHECK-LIST
Petunjuk :
  1. Di bawah ini ada bermacam-macam kemungkinan masalah.
  2. Bila masalah ini pernah atau sedang anda hadapi berilah tanda (√) pada nomor-nomor yang sesuai dengan nomor item masalah dalam lembaran ini.
  3. Kerjakanlah dengan sejujur-jujurnya, tidak perlu merasa takut. Hasilnya akan membantu para penyuluh dalam pemecahan masalah yang anda hadapi.
  4. Jawaban anda isi pada lembaran jawaban yang tersedia.

ASPEK MASALAH I
  1. Sering sakit ketika di SD
  2. Sering sakit ketika di SMP
  3. Jantung sering berdebar
  4. Keringat dingin sering keluar bila sedang gugup
  5. Kesehatan sering terganggu
  6. Pernah di operasi
  7. Merasa terlalu gemuk
  8. Merasa terlalu kurus
  9. Kurang nafsu makan
  10. Kurang bahagia karena cacat
  11. Sering kurang/tidakdapat tidur
  12. Merasa lelah dan tidak bersemangat
  13. Makanan kurang memenuhi syarat
  14. Kurang makan sehingga sering merasa lapar
  15. Sering merasa mengantuk
  16. Sering merasa pusing
  17. Penglihatan saya kurang
  18. Pendengaran saya kurang
  19. Saya sering gugup
  20. Kurang hawa segar
ASPEK MASALAH II
  1. Uang saku tidak mencukupi
  2. Kekurangan buku karena tidak dapat membeli
  3. Terpaksa kerja sambil sekolah karena ekonomi kurang
  4. Sering pinjam uang
  5. Tidak tahu cara menambah uang biaya sekolah
  6. Tidak melanjutkan sekolah karena soal biaya
  7. Ingin mempunyai kamar sendiri
  8. Penerangan lampu dirumah tidak cukup
  9. Uang sekolah tidak dapat dibayar
  10. Berjalan kaki kesekolah sedang sekolah jauh
  11. Orang tua tidak mempunyai penghidupan yang tetap
  12. Uang sekolah terlalu tinggi
  13. Terlalu banyak keluarga yang harus di biayai
  14. Tidak ada uang untuk membeli pakaian
  15. Ibu harus bekerja untuk menambah biaya sekolah

ASPEK MASALAH III
  1. Tidak mempunyai waktu untuk bermain
  2. Keinginan rekreasi sering terhalang
  3. Gemar melukis tapi tidak punya kesempatan
  4. Waktu libur saya harus bekerja
  5. Suka olah raga tapi tidak punya kesempatan
  6. Hobiku mengganggu belajar
  7. Tidak suka olah raga walau ada kesempatan
  8. Lebih suka buku hiburan daripada buku ilmiah
  9. Selalu pergi nonton film
  10. Gemar melukis tapi tak ada waku
  11. Tidak dapat menggunakan waktu luang
  12. Ada anggota keluarga yang menghalangi waktuku
  13. Ingin belajar menari/main sandiwara
  14. Kesenangan baca majalah sering menghabiskan waktu belajarku
  15. Habis waktuku nonton televisi
  16. Orang tuaku tidak pernah mengajak rekreasi
  17. Terlalu sering rekreasi keluar kota
  18. Senang menyanyi tapi tidak ada waktu
  19. Kedatangan temanku menghabiskan waktu belajarku
  20. Waktu belajar habis main catur

ASPEK MASALAH IV
  1. Sering melamun memikirkan si dia
  2. Sukar belajar kalau dia tidak mengirim surat
  3. Saya ragu-ragu terhadap pacarku
  4. Pacar selalu mengajakku keluar
  5. Iri melihat teman-teman berpacaran
  6. Kesepian karena belum punya pacar
  7. Banyak waktu yang digunakan untuk bersolek
  8. Sukar memilih calon istri/suami
  9. Mudah mencintai tapi mudah pula melupakan
  10. Sering bertepuk sebelah tangan
  11. Sering dibujuk ibu untuk kawin
  12. Luka hati menyebabkan sukar mencintai orang lain
  13. Sukar bergaul dengan lawan jenis
  14. Jodohku di tentukan orang tuaku

ASPEK MASALAH V
  1. Tidak senang bermain dalam kelompok
  2. Sering gagal dalam usaha mencari kawan
  3. Suka bergaul
  4. Merasa tidak disenangi kawan-kawan diluar sekolah
  5. Tidak berminat kepada organisasi
  6. Sukar menyesuaikan diri
  7. Mudah tersinggung
  8. Takut bergaul dengan atasan
  9. Tidak pernah menjadi pemimpin
  10. Tidak pernah mengemukakan suatu pendapat
  11. Sukar menerima kekalahan
  12. Sering bertentangan dengan pendapat orang lain
  13. Bingung bila berhadapan dengan orang banyak
  14. Selalu ingin berkuasa dalam pergaulan
  15. Mudah merasa malu
  16. Mudah marah
  17. Sering tidak sabar
  18. Sering tidak menepati janji
  19. Sering ditegur karena tidak sopan
  20. Sering terlambat dalam pertemuan/rapat

ASPEK MASALAH VI
  1. Masih meragukan adanya tuhan
  2. Tidak bersungguh-sungguh dalam bersembahyang
  3. Malas sembahyang
  4. Ingin pindah agama
  5. Sering berdusta/tidak jujur
  6. Ucapan sering tidak sesuai dengan perbuatan
  7. Sering mengambil barang-barang orang lain
  8. Sering tidak mengembalikan barang pinjaman
  9. Sering mempermainkan orang
  10. Pernah melanggar kesulitan


ASPEK MASALAH VII
100.Saya seorang anak tunggal
101.Tidak hidup bersama orang tua
102.Selalu bertengkar dengan adik/kakak
103.Ayah dan ibu pulang terlalu petang/terlambat pulang kerja
104.Tidak pernah bergembira dengan ayah dan ibu
105.Di rumah selalu sibuk dengan tugas-tugas
106.Pertentangan antara ayah dan ibu sering mengganggu pikiran saya
107.Mata pencaharian dirumah mengganggu pikiran saya
108.Pendapat keluarga yang kolot menyebabkan saya tidak meneruskan pelajaran
109.Orang tua kurang memperhatikan saya
110.Orang tua terlalu banyak bepergian
111.Orang tua mencampuri urusanku
112.Orang tua tidak mempercayai saya
113.Sukar menyesuaikan diri dengan ayah
114.Di rumah saya merasa kurang senang
115.Kehidupan dirumah tidak teratur
116.Ingin mengadakan perubahan dirumah
117.Keluarga di rumah kurang tolong-menolong
118.Ayah dan ibu tidak hidup bersama
119.Keluarga kami berantakan
120.Sukar menyesuaikan diri dengan ibu

ASPEK MASALAH VIII
121.Khawatir tidak dapat berdiri sendiri
122.Saya tidak tahu berbuat apa setelah tamat
123.Ingin melanjutkan sekolah tapi ingin juga bekerja
124.Bagiku sukar untuk menetapkan perguruan tinggi
125.Bagiku sulit untuk menentukan pekerjaan
126.Bagiku sulit menetapkan pilihan jurusan
127.Khawatir tidak diterima di perguruan tinggi
128.Ingin mengetahui bakat dan kemampuan saya
129.Cita-citaku tidak sesuai dengan kemampuanku
130.Ingin melanjutkan pendidikan tapi tidak ada biaya

ASPEK MASALAH IX
131.Saya sering tidak suka masuk sekolah
132.Jurusan saya sekarang tidak sesuai dengan keinginanku
133.Saya ingin pindah ke sekolah lain
134.Saya ingin pindah ke kelas lain
135.Merasa kurang di mengerti oleh guru
136.Peraturan di sekolah terlalu menekan saya
137.Pribadi seorang guru menyebabkan pelajaran saya tidak diperhatikan
138.Beberapa mata pelajaran kuanggap tidak perlu
139.Di sekolah tidak dapat memusatkan perhatian
140.Di dalam kelas saya sering melamun
141.Saya sering datang terlambat
142.Saya sering absen
143.Saya merasa dibenci oleh kawan-kawan saya
144.Kawan sering menjengkelkan saya
145.Tidak ada teman yang saya sukai untuk belajar bersama

ASPEK MASALAH X
146.Pelajaran sekolah terlalu mudah bagiku
147.Pelajaran sekolah terlalu berat bagiku
148.Enggan mengikuti keaktifan diluar sekolah
149.Sukar mendapatkan buku-buku pelajaran
150.Sulit mengerti isi buku-buku pelajaran
151.Saya takut terhadap ulangan
152.Saya pernah tidak naik kelas
153.Saya tak suka belajar
154.Saya tidak berminat pada buku
155.Sukar menangkap dan mengikuti pelajaran
156.Tidak senang belajar bersama
157.Sering khawatir kalau mendapat giliran ditunjuk oleh guru
158.Sukar mendapat kesukaran dalam menangkap pelajaran
159.Sukar mempelajari ilmu kimia dan biologi

ASPEK MASALAH XI
160.Tidak suka bergaul dengan orang lain
161.Tidak suka bergaul dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi
162.Sering merasa malu dengan kawan lain jenis
163.Sering merasa iri hati
164.Sukar untuk mendapatkan kawan
165.Tidak suka bertamu
166.Enggan menerima tamu
167.Merasa diri kurang
168.Sering merasa curiga
169.Bersikap kaku dan tidak toleran
170.Bersikap dingin dalam pergaulan
171.Sering menyesali diri sendiri
172.Sering ingin bunuh diri
173.Merasa pesimis atau tidak punya harapan
174.Saya ingin lebih menarik
 

Praktikum Konseling Individual (modeling Langsung)

Praktikum Konseling Individual (modeling Langsung)

  1.   Pengertian Modeling Langsung
Modeling langsung adalah prosedur yang digunakan untuk mengajarkan tingkah laku yang dikehendaki atau yang hendaknya dimiliki oleh konseli melalui contoh langsung dari konselor sendiri, guru, atau teman sebayanya.
Konselor perlu memberi contoh atau pola tingkah laku yang baik untuk klien yang tidak mengetahui bagaimana bertindak dalam suasana tertentu. Pada tahap tertentu pemberian contoh ini dapat berupa penampilan keadaan yang sebenarnya, misalnya contoh catatan kuliah yang dbapakat oleh mahasiswa lain. Konselor harus benar-benar peka terhadap berbagai kesempatan yang tepat untuk memberikan bantuan yang sederhana seperti itu. Dalam hal ini pemberian contoh pada umumnya ditampilkan dalam 2 cara yaitu konselor sendiri dapat bertindak sebagai model atau seorang kawan (dari konseli) dalam kehidupan social konseli dapat bertindak sebagai model dalam kehidupan social konseli sehari-hari. Dalam kedua cara ini, model itu hendaknya ditampilkan secara utuh dengan memperlihatkan baik keseluruhannya maupun bagian-bagiannya.
Jika menggunakan modeling langsung dalam konseling, konselor sebagai model pertama-tama konselor hendaknya berperan secara terbalik yaitu sebagai konseli sebaliknya konseli berperan sebagai orang lain dalam lingkungan konseli. Dalam pelaksanaan ini konselor hendaknya meminta konseli untuk memerankan orang tersepakt serealits mungkin. Dengan cara ini konseli dapat belajar menirukan tingkah laku yang menjadi model hampir sama dengan lingkungan konseli yang sebenarnya. Jika menggunakan model yang sesungguhnya, hendaknya diingat bahwa modeling itu adalah saran, pakkan keputusan bagi konseli. Galakkanlah konseli untuk mengadaptasi model tersepakt sesuai dengan gayanya sendiri.
B. Pelaksanaan modeling langsung
Jika konselor melaksanakan konseling dengan teknik modeling langsung maka langkah-langkah yang hendaknya dilakukan adalah:
  1. Perintahkan konseli untuk memainkan tentang apa yang harus ia pelajari sebelum model didemonstrasikan .
  2. Pilih suatu model yang serupa dengan konseli dan siapa yang bisa mendemonstrasikan tingkah laku yang menjadi tujuan dalam bentuk tiruan
  3. Sajikan demonstrasi model itu dalam suatu urutan scenario yang memperkecil stress bagi konseli
  4. Mintalah konseli untuk menyimpulkan apa yang ia lihat setelah demonstrasi itu
C. Kelemahan  Modeling Langsung  Dan Cara Mengatasinya
Kelemahan yang paling pokok adalah bahwa perpakatan (tingkah laku) teman tidak dapat dikontrol atau diulang. Barangkali yang paling baik adalah jika konselor dapat menekankan bagian-bagian mana dari perpakatan itu yang penting, dan kemudian mengulang tingkah laku yang diharapkan untuk dilakukan  selanjutnya. Sesudah model ditampilkan, konseli diminta untuk meniru model itu. Konseli didorong untuk melatih diri melakukan kembali tingkah laku itu. Dalam  hal ini konselor memberikan balikan dengan segera dalam bentuk komentar atau saran.
CONTOH  PERCAKAPAN MODELING LANGSUNG
Deskripsi masalah:
Ima adalah siswa kelas X. Ima mempunyai masalah yaitu akhir-akhir ini Ima merasa tidak nyaman dikelas apalagi dengan taqwa yang suka mengejek bajunya dikelas. Karena Ima tidak terima diperlakukan seperti itu tapi ia tidak tahu harus berpakat apa. Dengan masalah ini ia pun beimasiatif menemui konselor guna membantu menyeleseikan masalahnya. Berikut petikan wawancaranya.
Konselor/Konseli
 Percakapan
Keterampilan Dasar
1.TAHAP WAWANCARA AWAL
Konseli ”tok..tok..! assalamualaikum Pak..”
Konselor Waalaikum salam..(sambil berdiri). Mari silahkan masuk (menghampiri konseli sambil menjabat tangan). Silahkan duduk.. Attending
Konseli Makasih pak..
Konselor Kalau boleh bapak tahu nama ima siapa? Perkenalkan nama bapak Harum..
Konseli Nama saya Ima pak..
Konselor Sebelum ima kesini tadi belajar apa..? Rapport
Konseli Saya tadi baru selesei belajar biologi..
Konselor Bagaimana dengan pelajarannya tadi..?
Konseli Menyenangkan pak..
Konselor Apakah Ima kesini disuruh atau keinginan sendiri..? Menanyakan sifat kedatangan konseli
Konseli Saya kesini atas keinginan sendiri pak..
Konselor Apakah sebelumnya ima sudah pernah keruangan ini untuk dikonseling..? Menanyakan apakah konseli sudah pernah memperoleh konseling
Konseli Belum pak..
Konselor Begini, konseling itu adalah suatu layanan yang berusaha untuk membantu siswa yang sedang menghadapi masalah atau sulit mengambil keputusan agar dia mampu untuk memecahkan masalahnya atau agar dia mampu untuk mengambil keputusan yang tepat baginya. Nah apa ima sudah mengerti..? Memberi informasi tentang konseling
Konseli Iya pak..
Konselor Jadi peran bapak disini sebagai konselor yang berusaha membantu ima untuk menemukan jalan keluar atas masalah yang ima hadapi. Lalu ima sendiri sebagai konseli sebaiknya aktif dalam mengemukakan masalah dan latar belakang masalah serta mengkaji berbagai kemungkinan jalan keluar. Memberi informasi tentang peranan konselor dan konseli
Konseli Saya akan berusaha aktif dalam konseling ini. Tapi saya tidak ingin  kalau masalah saya ini diketahui oleh orang lain.
Konselor Ima tidak perlu khawatir, disini bapak akan menjaga rahasia ima. Sebab dalam konseling itu memiliki kode etik yaitu asas kerahasiaan salah satunya. Jadi jangan ragu untuk mengemukakan masalah ima tanpa perlu merasa takut untuk diketahui orang lain. Memberi informasi tentang kode etik konseling
Konseli Syukurlah kalau begitu.
Konselor Baiklah, disekolah ini terdapat 3 konselor yang dapat ima pilih dan terserah ima mau pilih yang mana. Yang pertama ada Pak Hakim sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 3 tahun. Yang kedua Bapak  Fitriadi sarjana PPB UNM yang telah berpengalaman 2 tahun, dan terakhir Bapak sendiri sarjana PPB UNM yang berpengalaman baru 1tahun. Silahkan pilih satu diantaranya..? Memberi informasi tentang konselor yang dapat dipilih
Konseli Saya dengan bapak saja..
Konselor Baiklah, Ima menemui bapak punya masalah apa? Menanyakan masalah konseli
konseli Iya pak. Ini masalah saya dengan teman saya
Konselor Terima kasih, lalu apa yang ima harapkan setelah melakukan konseling ini? Kontrak tujuan
Konseli Masalah yang saya hadapi dapat teratasi dan menemukan jalan keluarnya
Konselor Begini, konseling ini mempaktuhkan waktu yaitu 2 kali pertemuan dengan durasi 45 menit, bagaimana apa ima setuju.? Kontrak waktu
Konseli Iya pak (sambil menggangguk kepala)
2. TAHAP EKSPLORASI MASALAH
Konselor Baiklah, kita akan memulai konselingnya. Coba ceritaka masalah apa yang sedang ima alami..? Mengajak Terpakka
Konseli Begini pak, saya tidak tahu mengapa akhir-akhir ini saya merasa tidak nyaman berada dikelas terutama dengan taqwa..
Konselor Kalau boleh bapak tahu apa yang menyebabkan ima bersikap demikian? Pertanyaan terpakka
Konseli Begini pak.. (menunduk dan terdiam)
Konselor Teruskan Ima.. Dorongan minimal
Konseli Saya benci dengan taqwa, saya kurang suka dengan perilakunya
Konselor Kenapa ima kurang suka dengan perilaku taqwa? Mengikuti pokok pembicaraan
Konseli Saya kurang suka dengan perilakunya yang suka mengejek baju saya dan sepertinya sudah tidak sanggup untuk berteman dengan dia
Konselor Apakah ima sudah pernah mencoba untuk memberitahunya? Meminta penjelasan lebih lanjut
Konseli Iya sih pak, saya sudah pernah berusaha dan saya sangat ingin lebih akrab dengan taqwa
Konselor Tadi ima mengatakan sudah tidak sanggup berteman dengan taqwa tapi kok sekarang ima ingin lebih akrab dengan taqwa Konfrontasi
Konseli Iya juga sih pak, tapi sepertinya saya tidak bisa akrab dengan taqwa
Konselor Ima mengatakan bahwa ima sepertinya tidak bisa akrab dengan taqwa. Mengapa hal itu sampai terjadi? Merespon isi wacana secara logis
Konseli Ya pak, karena saya tidak suka dengan perilakunya yang suka mengejek baju saya.Saya benci dengan taqwa
Konselor Menurut bapak, ima sebaiknya tidak berkata seperti itu.. Memberi informasi
Konseli Ya pak..
Konselor Ima mengatakan bahwa ima tidak suka dengan perilaku taqwa yang suka mengejek bajumu dan ima benci dengan taqwa? Merespon isi berdasar pentingnya
Konseli Benar pak, saya jadi bingung disatu sisi saya sebenarnya ingin memberitahu taqwa mengenai perilakunya dan ingin lebih akrab dengan taqwa tapi saya tidak tahu harus berpakat apa?
Konselor Ima pasti bisa Memberi penguatan
Konseli Iya pak..
Konselor Jadi ima benci dengan taqwa karena perilakunya yang suka mengejek baju ima? Merespon isi berdasar sebab akibat
Konseli Seperti itulah pak..
Konselor Terkadang memang kita bisa membenci teman kita karena perilakunya yang pakruk.. Memberi nasihat
Konseli Tetapi Saya sedih pak..
Konselor Ima merasa sedih? Merespon perasaan sedih
Konseli Terus terang iya pak, padahal dihati kecil saya juga ada keinginan agar taqwa bisa merubah perilakunya
Konselor Ima merasa gembira apabila taqwa dapat merubah perilakunya? Merespon perasaan senang
Konseli Ya pak, apalagi kami kan sekelas pak tapi saya jengkel dengan taqwa yang suka mengejek baju saya
Konselor Ima merasa kesal dengan taqwa? Merespon perasaan marah
Konseli Ya pak, tapi saya benar-benar tidak tahu harus berpakat apa ..
Konselor Ima merasa sedih karena suka diejek bajumu dengan taqwa? Merespon yang dapat dipertukarkan
Konseli Iya pak, saya benar-benar jengkel dan kesal dengan taqwa yang suka mengejek baju saya, apalagi kami sekelas
Konselor Ima merasa jengkel dan kesal karena taqwa suka mengejek bajumu dan sekarang ima sedih karena ima sekelas dengan taqwa..? Merespon terhadap perasaan dan isi yang banyak
Konseli Betul pak, saya kesal dan jengkel dengan taqwa
Konselor Ima merasa frustasi karena taqwa suka mengejek ima apalagi kalian berdua sekelas..? Merespon terhadap perasaan yang sulit
Konseli Ya pak..
Konselor Ima merasa tidak nyaman dikelas terutama pada taqwa yang suka mengejek bajumu tapi ima tidak tahu harus berpakat apa.. Menanyakan sebab-sebab masalah
Konseli Ya begitulah pak, saya sudah tidak tahu lagi harus berpakat apa untuk mengatasi masalah saya?
Konselor Ima merasa putus asa dan kecewa dengan perilaku taqwa tapi ima tidak tahu harus berpakat apa? Ima coba simpulkan apa masalah ima sebenarnya? Minta menyimpulkan
Konseli Ya pak. Saya sedih karena semua ini.Masalah saya pak saya selalu di ejek oleh taqwa saya ingin taqwa tidak mengejek saya lagi pak
3.TAHAP MEMPERSONALISASI
Konselor Ima merasa sedih karena berbagai kekurangan yang ima miliki telah menghilangkan harapan yang ima inginkan..? Mempersonalisasi arti (personalisasi tema umum)
Konseli Ya pak, saya merasa terganggu karena sering kepikiran masalah ini. Setiap saya mencoba untuk bisa memberitahu taqwa tapi saya merasa takut
Konselor Ima merasa jengkel karena ima belum bisa memberitahu taqwa..? Mempersonalisasi arti (internalisasi pengalaman)
Konseli Benar pak, beberapa waktu yang lalu saya sudah mencoba untuk memberitahu taqwa tapi tetap saja taqwa masih suka mengejek baju saya
Konselor Ima merasa sangat marah karena taqwa masih mengejek baju ima? Mempersonalisasi arti (personalisasi implikasi)
Konseli Benar pak. Pertama, saya tidak nyaman berada dikelas karena taqwa suka mengejek baju saya, dan kedua saya tidak suka diejek oleh taqwa dan akibatnya dikelas kami kurang akrab
Konselor Ima merasa kecewa karena ima dikelas kurang akrab dengan taqwa? Mempersonalisasi masalah (mengonseptualisasikan kekurangan)
Konseli Ya pak, saya merasa kecewa..
Konselor Ima merasa sedih karena ima dikelas kurang akrab dengan taqwa? Mempersonalisasi masalah (menginternalisasikan kekurangan)
Konseli Ya pak, saya merasa sakit hati karena taqwa suka mengejek baju saya.Akhirnya kami dikelas kurang akrab satu sama lain
Konselor Ima merasa putus asa karena ima tidak tahu harus berpakat apa sebagaimana ditunjukkan oleh kurang akrabnya ima dengan taqwa? Mempersonalisasi masalah (mengongkretkan kekurangan)
Konseli Sebenarnya saya ingin memberitahu taqwa tapi saya tidak melakukan suatu usaha yang maksimal
Konselor Tadi ima mengatakan ingin memberitahu taqwa tapi kok ima tidak melakukan suatu usaha yang maksimal.? Mempersonalisasi masalah (mengonfrontasikan kekurangan)
Konseli Iya pak, saya belum melakukan suatu usaha yang maksimal. Andaikan saya bisa memberitahu taqwa mungkin dia akan berhenti mengejek saya.
Konselor Ima merasa kecewa karena ima tidak dapat memberitahu pada taqwa dan ima ingin sekali taqwa berhenti mengejek ima..? Mempersonalisasi tujuan (mengonseptualisasikan aset)
Konseli Betul pak, andaikan saya tahu harus berpakat apa  mungkin taqwa tidak akan mengejek saya lagi..
Konselor Ima merasa jengkel karena ima tidak tahu harus berpakat apa dan ima benar-benar ingin taqwa tidak mengejek ima lagi..? Mempersonalisasi tujuan (menginternalisasikan aset)
Konseli Iya pak, jika saya tahu bagaimana cara agar taqwa dapat berhenti mengejek saya dan kami bisa jadi akrab, tentunya saya harus bisa melakukan suatu usaha dan melaksanakan usaha tersepakt.
Konselor Ima merasa sedih dan kecewa karena ima tidak bisa melakukan suatu usaha yang berarti dan ima benar-benar ingin melakukan usaha tersepakt sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan ima mengembangkan rencana usaha tersepakt dan melaksanakannya? Mempersonalisasi tujuan (mengongkretkan aset)
Konseli Iya juga sih pak, tetapi apakah saya bisa untuk memberitahu taqwa dan mempakat taqwa berhenti mengejek saya..?
Konselor Ima tidak yakin apakah ima bisa memberitahu taqwa dan mempakat taqwa berhenti mengejek ima walaupun ima sendiri telah mengetahui kekuatan-kekuatan ima untuk mencapainya..? Mempersonalisasi tujuan (mengonfrontasikan aset)
Konseli Iya juga sih pak, saya ingin mempakat taqwa berhenti mengejek taqwa dan gara-gara masalah ini dikelas saya dan taqwa jadi kurang akrab
Konselor Ima merasa sedih karena dikelas ima dan taqwa jadi kurang akrab..? Mempersonalisasi perasaan(perasaan tentang arti)
Konseli Iya pak. Saya jengkel diri saya, gara-gara saya tidak tahu berpakat apa untuk memberitahu taqwa semuanya jadi seperti ini..
Konselor Ima merasa marah dengan diri ima karena ima tidak tahu berpakat apa untuk memberitahu taqwa..? Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang kekurangan )
Konseli Betul pak. Tapi seharusnya saya tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi masalah ini. Saya harus bertindak dan melakukan suatu usaha bagaimana caranya agar saya bisa memberitahu taqwa dan mempakat dia berhenti mengejek saya.
Konselor Bagus Ima, ima merasa tidak sabar lagi lagi karena ingin segera melakukan suatu usaha agar bisa mempakat taqwa berhenti mengejek ima. Mempersonalisasi perasaan (perasaan tentang tujuan)
Konseli Ya pak, saya sudah tidak sabar ingin segera melakukannya
4.TAHAP MENGEMBANGKAN INISIATIF
Konselor Baiklah kalau begitu terlebih dahulu ima hendaknya dapat menetapkan tujuan yang ingin ima capai. Dalam merumuskan tujuan ini ima harus mempertimbangkan siapa saja yang harus dilibatkan dalam upaya mencapai tujuan yang telah ima tetapkan, apa saja yang akan dilakukan, kapan harus dilakukan dan seberapa baik seharusnya cara itu dilakukan. Nah siapa saja yang terlibat dalam permasalahan ima ini ? Menetapkan tujuan (menetapkan komponen-komponen)
Konseli Saya rasa yang terlibat yaitu diri saya dan taqwa..
Konselor Baik, lalu apa yang ima lakukan dalam menyeleseikan ketidakmampuan ima untuk memberitahu taqwa agar dia berhenti mengejek ima..? Menetapkan tujuan (menetapkan fungsi)
Konseli Saya ingin berusaha dengan baik pak..
Konselor Ya itu rencana yang bagus, tapi yang lebih penting adalah bagaimana caramu melakukannya? Menetapkan tujuan (menetapkan proses)
Konseli Inilah masalahnya pak, disamping karena saya agak takut pada taqwa, saya tak begitu tahu cara mengemukakan yang baik dengan orang lain.
Konselor Ima mengalami kesulitan mengemukakan dengan taqwa karena ima agak takut.Baiklah, ima harus menghilangkan rasa takut dan kedua ima harus bisa merespon secara kuat.
Konseli Untuk menghilangkan rasa takut mungkin dapat saya capai, bagaimana caranya bisa merespon secara akurat..?
Konselor Ima dapat merespon secara akurat jika ima dapat memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain, dan ima dapat mengkomunikasikan pemahaman itu dengan kata atau kalimat yang tegas. Bagaimana ima sudah mengerti?
Konseli Ya pak..
Konselor Disamping itu dalam kondisi yang bagaimana ima dapat mengkomunikasikan kata atau kalimat yang tegas pada taqwa? Menetapkan tujuan (menetapkan kondisi)
Konseli Saya akan mencoba pada saat istirahat disekolah
Konselor Bagus. Ima juga harus menetapkan standarnya yaitu banyaknya respon yang ima kemukakan misalnya tiga atau empat kali. Menetapkan tujuan (menetapkan standar)
Konseli Ya akan saya coba untuk dapat melakukannya 4 kali saat istirahat sekolah tiba.
Konselor Bagus sekali. Nah sekarang coba ima rumuskan apa tujuan yang ingin ima capai setelah konseling ini? Menetapkan tujuan (mengkomunikasikan tujuan operasional)
Konseli Baik pak, saya merasa agak takut pada taqwa sehingga saya tidak dapat memberitahu taqwa dengan tegas karena itu saya ingin dapat mempakat taqwa berhenti mengejek saya, saat istirahat tiba disekolah sebagaimana ditunjukkan semaksimal mungkin dan telah saya lakukan secara akurat sebanyak 4 kali.
Konselor Bagus sekali, ima telah merumuskan tujuan untuk mengatasi masalah ima..
Konseli Ya pak..
Konselor Kalau boleh bapak tahu, apakah ima belum pernah mencoba untuk berusaha memberitahu dengan tegas pada taqwa? Mengembangkan program(membantu mengidentifikasi program)
Konseli Sudah pak, tapi tetap saja saya masih takut untuk memberitahu taqwa dengan tegas.Saat taqwa mengejek baju saya, saya terdiam dan menggigit bibir. Dapatkah bapak menunjukkan cara lain untuk mengatasi masalah saya ini..?
Konselor Tentu saja dapat.Setelah saya mendengar cerita masalah ima, bapak akan memberikan alternatif yang bisa ima lakukan yaitu ima bisa melakukan teknik modeling langsung atau modeling simbolik. Teknik modeling langsung adalah prosedur yang digunakan untuk mengajarkan tingkah laku yang dikehendaki atau yang hendaknya dimiliki oleh konseli melalui contoh langsung dari konselor sendiri, guru, atau teman sebayanya.Sedangkan modeling simbolik adalah modelnya disajikan melalui media tertentu seperti video, slide, rekaman suara.Bagaimana pendapatmu? Mengembangkan program (membantu konseli memilih program)
Konseli Keduanya kelihatan bagus tapi saya masih bingung pilih yang mana..?
konselor Baiklah agar ima dapat memilih teknik yang cocok hendaknya ima menguji setiap alternative tadi kebaikan dan kerugiaannya baik bagi dirimu maupun orang lain. Untuk itu ima dapat menggunakan “Lembar Keseimbangan” ini.Silahkan diisi! Pengujian alternative program
konseli Ya pak.
konselor Coba sekarang kita uji bersama..
konseli Menurut saya yang paling penting adalah agar saya dapat bertindak tegas pada taqwa.
konselor Bagaimana ima sudah di uji keseimbangannya. Kalau sudah tolong sebutkan kelebihan dan kekurangan teknik modeling langsung dan simbolik
Konseli Iya pak. Modeling langsung keuntungannya saya bisa melihat langsung seseorang memperagakan mengenai cara menyelesaikan masalah untuk kerugiannya saya belum dapatkan pak. Modeling simbolik keuntungannya menurut saya kita bisa melihat orang memperagakan dalam bentuk video dan slide sedangkan kerugiannya pak kita tidak bisa pastikan begitu yang ditampilkan lebih baik kayaknya kalau modeling langsung.
Konselor Jadi ima pilih yang mana?
Konseli Saya pilih modeling langsung pak
konselor Ok. Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengatur langkah-langkah program yaitu langkah mana yang akan ima lakukan lebih dahulu kemudian langkah pengantara dan sub langkah baik sub langkah dari langkah awal maupun sub langkah dari langkah pengantara itu. Langkah mana yang menurut ima lebih penting dari semua program itu..? Mengembangkan langkah awal program
konseli Saya pikir yang menjadi langkah awal saya yakni mempelajari teknik modeling langsung
Konselor Itu adalah langkah awal yang baik, dan mana langkah pengantara ima yang menjadi jembatan untuk mencapai tujuan? Mengembangkan langkah pengantara program
Konseli Langkah pengantara saya adalah saya akan memperagakan dari teknik modeling langsung
Konselor Nah sekarang sub langkah apa saja yang ima akan lakukan? Mengembangkan sub langkah program
Konseli Yang menjadi sub langkah saya yaitu pertama saya mempelajari teknik modeling langsung dengan baik dan kedua tidak putus asa dalam berlatih
Konselor Baik sekali, sekarang ima menetapkan waktu kapan ima mau menyeleseikan program tersepakt? Merencanakan jadwal (menetapkan waktu penyeleseian)
Konseli Minggu depan pak.
Konselor Baik, ima bertekad untuk menyeleseikan program tersepakt minggu depan.Selanjutnya kapan ima akan memulai kegiatan tahap awal? Menetapkan waktu memulai
Konseli Waktu dekat ini pak. Saya tidak ingin menunda lagi pak.
Konselor Baik sekali, ima sudah tidak sabar menunggu. Lalu apa yang ima lakukan pada hari kedua, ketiga dan keempat? Memonitori rentang waktu
Konseli Pada hari kedua saya akan melatih pengucapan, hari ketiga saya akan memperbanyak latihan, dan hari keempat saya berusaha mempraktekkan
Konselor Baiklah, karena sudah tidak sabar untuk melakukan latihan maka kita akan memulainya sekarang. Bapak akan memberitahukan teknik dari modeling langsung.Begini kita akan bermain peran sebentar. Bapak ingin ima berperan sebagai taqwa. Seperti yang dia lakukan, katakana pada Bapak apa yang ia katakan tentang baju ima.Bapak akan berperan sebagai ima. Bapak akan hanya terdiam dan menggigit bibir seperti yang ima katakana pada bapak. Bapak akan mengatakan pad ataqwa perasaan sakit saya. Ok, Sekarang ima mulai sebagai taqwa. Mendeskripsikan rasional dan ringkasan modeling langsung
Konseli Ya pak.
Konselor Kita mulai:Konseli            :( sebagai taqwa dengan suara mencemooh) “ima tahu Ima bahwa bajumu kelihatan aneh pagi ini. Apakah baju itu milikmu atau ima rampas dari adikmu..?”Konselor          :( sebagai Ima, diam sejenak, kemudian mulai menggigit bibir dan kemudian berhenti) “Pakkan, ini baju saya sendiri. Hei taqwa, apa urusanmu tentang baju ini! Kami mempunyai banyak uang. Perasaan saya sakit ketika ima mengatakan baju saya seperti itu..?” Konseli            : ( sebagai taqwa)”oh lupakan saja. Saya minta maaf. Bisakah ima datang setelah pulang sekolah nanti..?”
Bagaimana apa ima sudah paham?
Memberi contoh
Konseli Ya pak
Konselor Bagaimana tentang pelaksanaan modeling langsung? Apa ima mau melakukan sekarang atau kapan? Mendiskusikan tentang pelaksanaan modeling langsung
Konseli Saya ingin melakukan sekarang pak.
Konselor Setelah selesei memainkan peran seperti itu, selanjutnya konseli meringkaskan hasilnya. Proses hasil ringkasan tersepakt adalah sebagai berikut :Konselor          :”ok. Mari kita bicataqwan permainan peran kita tadi. Apakah ima merasa seperti yang dilakukan taqwa..?”Konseli            :”Ya, saya yakin ia menyesal juga. Saya tidak mengira ia benar-benar bermaksud begitu..” Konselor          :”Mungkin itu benar. Tetapi sepanjang ima tidak mengatakan apa-apa, ia tidak tahu bagaimana perasaanmu? Apa yang ima lihat tentang yang bapak lakukan..?
Konseli            :”Baiklah, bapak mulai menggigit bibir bapak sendiri. Tetapi bapak kelihatan berani dan mengatakan bahwa perasaan bapak terluka..”
Konselor          :”Apakah ima dapat mengatakan pad ataqwa seperti yang saya katakan..?
Konseli            : ‘Ya saya bisa..”
Konselor          :”Baiklah, Kita bisa mencoba peranan lain. Sekarang saya berperan sebagai taqwa dan ima sebagai dirimu sendiri. Jika ima lupa untuk mengatakan sesuatu dan mulai menggigit bibirmu, berhentilah sejenak. Kemudian katakan pada saya dalam kata-katamu sendiri bahwa ima merasa sakit hati diperlakukan seperti itu..”
Mengajak konseli meringkaskan hasil dari teknik modeling langsung
Konseli Saya akan coba berlatih dirumah pak. Berlatih sendiri
Konselor Bagaimana menurut ima? Dan bagaimana perasaan ima?
Konseli Bagus pak, saya Senang
5.TAHAP TERMINASI
Konselor Rupanya waktu kita sudah hampir habis. Merujuk keterbatasan waktu
Konseli Iya Pak
Konselor Untuk memanfaatkan waktu,bapak ingin ima mengungkapkan kembali pokok-pokok hasil pembicaraan kita? Meminta Konseli Merangkum hasil Pembicaraan
Konseli Saya harus melakukan teknik modeling langsung yang bapak peragakan  setiap ketemu dengan taqwa
Konselor Bagus rupanya ima sudah paham, bagaiman perasaan ima sekarang? Menanyakan perasaan konseli
Konseli Saya merasa lega pak..
Konselor Baiklah kalau begitu bapak akan memberi tugas pada ima untuk melakukan setiap kali ima ketemu dengan taqwa, agar dia berhenti mengejek ima Memberikan PR
Konseli Ya pak saya akan berusaha..
Konselor Bapak akan memberikan catatan bapak pada ima sebagai pengingat dapat dijadikan control untuk mengetahui kemajuan ima. Memberikan catatan
Konseli Baik pak, terima kasih..
Konselor Kalau ima tidak keberatan kita bisa bertemu lagi disini pada hari dan jam yang sama untuk membicataqwan pengalaman ima.? Mengemukakan rencana pertemuan berikutnya dan tindak lanjut
Konseli Baiklah kalau begitu boleh saya pamit pulang?
konselor Untuk pertemuaan kita cukup sampai disini, selamat siang Ima! Melakukan perpisahan
konseli Selamat siang pak..
 

 
 

Iklan

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Bimbingan & Konseling - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger